Gibran Kunjungi Desa Malaya, Warga Titipkan Harapan di Masa Kemarau

Jalan menuju Desa Malaya di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, biasanya dipenuhi debu saat musim kemarau. Namun, suasana berbeda terasa pada Kamis sore, 10 September 2026. Jalan yang beralaskan batu dan tanah merah ini disiram air untuk mengurangi debu, demi kelancaran perjalanan rombongan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rangka meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di balik persiapan tersebut, warga Desa Malaya menantikan kedatangan Gibran dengan harapan untuk menyampaikan keluhan yang telah mereka rasakan selama berbulan-bulan: asap karhutla yang mengganggu dan kesulitan dalam mendapatkan air bersih.
Menanti di Depan Warung
Antusiasme warga mulai tampak selepas waktu magrib, sekitar pukul 18.30 WIB. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak berbondong-bondong menuju sebuah warung, yang menjadi salah satu titik perhentian rombongan Gibran. Mereka berdiri dan duduk di sekitar lokasi, menanti kendaraan rombongan yang belum juga terlihat. Waktu berlalu, hampir dua jam warga menunggu dengan penuh harapan. Sambil menanti, kami berbincang dengan beberapa warga untuk memahami harapan mereka terkait kedatangan Gibran.
Salah satu warga, Nur Azizah, tampak malu-malu saat ditanya tentang harapannya. Berbeda dengan Leha, yang dengan tegas menyampaikan keresahannya. Ia mengungkapkan bahwa dampak karhutla telah dirasakan selama hampir tiga bulan. Masalah semakin parah ketika sumber air bersih semakin sulit dijangkau. “Sudah lama sekali kami tidak mendapatkan air bersih. Bantuan yang datang memang ada, Alhamdulillah, tetapi kami harus antre. Untuk Pak Gibran, kami berharap ada bantuan yang lebih baik lagi,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Desa Malaya: Terdampak Karhutla
Desa Malaya dipilih sebagai lokasi kunjungan Gibran ke Kalimantan Barat untuk melihat secara langsung penanganan karhutla. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian peninjauan yang dilakukan di tiga provinsi di Kalimantan. Pemerintah pusat menekankan bahwa penanganan kebakaran harus sejalan dengan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak. Di Desa Malaya, isu ini terasa lebih dekat dan nyata. Ketika api muncul, petugas berupaya memadamkannya. Saat asap menyebar, warga harus mengurangi aktivitas mereka dan menjaga kesehatan. Apalagi, kemarau memperparah situasi dengan mengurangi pasokan air bersih, sehingga bantuan air sangat berarti bagi masyarakat.
Kedatangan Gibran
Setelah menunggu cukup lama, rombongan Gibran akhirnya tiba di Desa Malaya. Warga berusaha mendekat, namun petugas keamanan segera mengatur kerumunan agar rombongan bisa bergerak menuju lokasi yang telah disiapkan. Mereka juga diminta untuk tidak menyalakan lampu flash saat mengabadikan momen kedatangan Gibran. Dengan penuh semangat, Gibran turun dari mobil dan menyapa warga yang telah menunggu di sepanjang jalur. Suasana yang sebelumnya dipenuhi penantian berubah menjadi riuh saat warga akhirnya dapat bertemu langsung dengan Wakil Presiden.
Gibran, yang didampingi oleh Bupati Kubu Raya, Sujiwo, kemudian berhenti di sebuah jembatan kecil. Di tempat ini, perwakilan masyarakat diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Bagi warga yang sejak sore menunggu, kesempatan ini sangat berarti untuk menyampaikan harapan mereka secara langsung kepada pemimpin negara.
Perjalanan Menuju Kawasan Terdampak Karhutla
Setelah mendengarkan aspirasi dari warga, Gibran melanjutkan perjalanan menuju kawasan yang sebelumnya terkena dampak karhutla. Sekitar 20 menit kemudian, Gibran dan rombongan keluar dari kawasan hutan. Peninjauan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan bahwa penanganan karhutla di lapangan berjalan dengan baik. Selain pemadaman, perhatian juga diberikan kepada kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak. Bagi warga Desa Malaya, perhatian ini sangat penting karena karhutla tidak hanya menyebabkan asap, tetapi juga memperburuk masalah air bersih selama musim kemarau.
Memberikan Harapan Melalui Kegiatan Sosial
Sebelum meninggalkan Desa Malaya, Gibran kembali berhenti dalam perjalanan menuju mobilnya. Ia membagikan buku tulis dan kaos kepada warga. Beberapa masyarakat memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan harapan mereka secara langsung. Momen singkat ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga yang telah menunggu sejak sore. Setelah itu, Gibran dan rombongan meninggalkan Desa Malaya dengan harapan yang tersimpan di hati masyarakat.
Harapan di Tengah Musim Kemarau
Kunjungan Gibran memberikan peluang bagi warga Desa Malaya untuk menyampaikan langsung masalah yang mereka hadapi. Di saat yang sama, penanganan karhutla dan distribusi air bersih tetap berlangsung. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sebelumnya mencatat bahwa sekitar 570 ribu liter air telah disalurkan kepada masyarakat dalam seminggu terakhir. Bagi warga, bantuan tersebut menjadi penyambung kebutuhan sehari-hari sembari menunggu situasi kembali normal. Di Desa Malaya, harapan kini berjalan seiring dengan upaya yang dilakukan. Petugas terus menangani karhutla, distribusi air terus dilakukan, dan warga berharap agar hujan segera turun lebih lama.
Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, warga Desa Malaya tetap menanti kabar baik: api padam, air bersih kembali tersedia, dan kehidupan mereka segera pulih seperti semula.
➡️ Baca Juga: Perbandingan Sunscreen Hanasui Putih dan Biru: Mana yang Lebih Efektif?
➡️ Baca Juga: Nutrisi Seimbang untuk Meningkatkan Efisiensi Kerja Organ Tubuh Secara Alami




