Ciptakan Video Iklan Menggunakan AI, Ritel Menghemat Biaya Hingga 90%

Jakarta – Pertumbuhan pesat social commerce di Asia Tenggara, terutama di Indonesia, mendorong merek-merek ritel untuk menghasilkan konten visual promosi dalam jumlah besar dan dengan kecepatan tinggi. Dalam menghadapi tantangan ini, penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah merevolusi cara pembuatan video iklan, memungkinkan pemilik merek untuk memangkas biaya produksi hingga 90 persen dan mempercepat waktu pengerjaan dari beberapa minggu menjadi hanya beberapa hari. Ronak Modi, Chief Business Officer di Global Fynd, menjelaskan bahwa pergeseran perilaku konsumen ke platform seperti TikTok telah merubah secara signifikan cara pemasaran ritel dilakukan.
Transformasi Pemasaran Melalui AI
Merek kini tidak lagi dapat mengandalkan satu atau dua materi promosi dalam satu kuartal. Mereka dihadapkan pada tuntutan untuk memproduksi puluhan bahkan ratusan variasi konten yang dapat mengikuti tren yang selalu berubah. Sayangnya, metode produksi tradisional terbukti terlalu lambat dan merugikan anggaran pemasaran. Menurut Modi, biasanya, proses pembuatan video iklan melalui rumah produksi konvensional memerlukan waktu antara dua hingga tiga minggu dan biaya yang berkisar antara USD40.000 hingga USD50.000 (sekitar Rp650 juta hingga Rp800 juta).
Biaya ini meliputi berbagai aspek, mulai dari penyewaan studio, pencarian lokasi, perekrutan model, penulisan naskah, hingga melibatkan kru fotografer dan videografer profesional. “Kami menyaksikan permintaan yang sangat tinggi dari berbagai merek untuk menciptakan konten dalam skala besar dan waktu yang jauh lebih singkat. Dengan memanfaatkan AI, kami mampu mengurangi waktu produksi dari dua hingga tiga minggu menjadi sekitar 48 jam saja,” ungkap Ronak Modi dalam wawancara eksklusif baru-baru ini.
Studi Kasus: Proyek Superdry
Modi memberikan contoh proyek yang dikerjakan Fynd untuk merek fashion global, Superdry. Dengan memanfaatkan teknologi AI generatif, timnya berhasil menciptakan video promosi produk yang terlihat sangat realistis hanya dalam waktu tiga hari. Menariknya, anggaran yang dikeluarkan untuk proyek ini hanya sekitar 10% dari biaya yang biasanya dibutuhkan untuk sesi pengambilan gambar secara fisik.
Menghadirkan Konten User-Generated dengan AI
Selain video komersial yang terstruktur, penerapan AI juga merambah ke dalam pembuatan konten berbasis pengguna (User-Generated Content/UGC). Konten UGC yang tampak alami dan organik kini menjadi salah satu format paling efektif untuk mendorong interaksi di platform media sosial. Dengan bantuan teknologi AI, peritel hanya perlu menyediakan foto produk, dan sistem akan mengubahnya menjadi video dinamis yang siap tayang di berbagai saluran digital.
Kerjasama Teknologi AI
Mengenai arsitektur teknologinya, Modi menjelaskan bahwa Fynd tidak mengembangkan model AI dari nol. Mereka menerapkan filosofi kolaborasi dengan model-model AI terkemuka yang sudah ada di industri global. Di atas model-model tersebut, Fynd membangun kasus penggunaan khusus yang dilatih dengan data ritel privat serta basis data domain publik untuk menghasilkan output yang akurat bagi industri perdagangan.
Ekosistem Unified Commerce Fynd
Efisiensi dalam produksi konten kreatif ini melengkapi ekosistem platform unified commerce yang dikembangkan oleh Fynd. Selain produksi media berbasis AI, Fynd juga memperkenalkan fitur virtual try-on menggunakan augmented reality (AR) dan AI. Fitur ini dapat diterapkan pada kategori produk seperti kacamata, kosmetik, hingga analisis kondisi kulit dalam industri kecantikan.
Implementasi di Indonesia
Di Indonesia, teknologi virtual try-on milik Fynd, yang dikenal sebagai GlamAR, telah mulai diimplementasikan oleh mitra mereka. Fitur ini mampu mengukur dimensi wajah dan ukuran bingkai dengan presisi, yang dapat diakses langsung dari browser ponsel atau komputer konsumen. Hasilnya, terjadi peningkatan konversi transaksi hingga 30 kali lipat pada konsumen yang mencoba kacamata secara virtual dibandingkan dengan mereka yang tidak memanfaatkan fitur tersebut.
Perjalanan dan Pertumbuhan Fynd
Didirikan pada tahun 2012, Fynd kini telah beroperasi di sekitar 11 negara di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Perusahaan ini memproses nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) mencapai USD3,5 miliar. Perjalanan ekspansi Fynd didukung oleh investasi strategis dari Google pada tahun 2018 dalam upaya digitalisasi ritel, yang kemudian disusul oleh akuisisi saham mayoritas oleh konglomerat Reliance Industries pada tahun 2019.
Manfaat Penggunaan AI dalam Pembuatan Video Iklan
Penerapan teknologi AI dalam pembuatan video iklan memberikan berbagai manfaat signifikan bagi peritel. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penghematan Biaya: Penggunaan AI dapat memangkas biaya produksi hingga 90%.
- Waktu Produksi yang Singkat: Dari beberapa minggu menjadi hanya 48 jam.
- Fleksibilitas Konten: Mampu menghasilkan berbagai variasi konten sesuai dengan tren terbaru.
- Kualitas Tinggi: Menghasilkan video yang tampak realistis dan profesional.
- Interaksi Lebih Baik: Menggunakan UGC untuk meningkatkan keterlibatan di platform media sosial.
Mengoptimalkan Strategi Pemasaran Ritel
Dengan semua keunggulan yang ditawarkan oleh AI dalam produksi video iklan, merek-merek ritel dapat mengoptimalkan strategi pemasaran mereka secara signifikan. Dengan mengadopsi teknologi ini, mereka tidak hanya akan menghemat biaya, tetapi juga dapat lebih responsif terhadap perubahan tren dan permintaan pasar. Ini juga memberi mereka keunggulan kompetitif yang diperlukan untuk tetap relevan di pasar yang terus berubah.
Dalam dunia yang semakin digital ini, kemampuan untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi baru akan menjadi kunci keberhasilan bagi merek-merek ritel. Dengan AI sebagai alat utama dalam pembuatan video iklan, masa depan pemasaran ritel tampak lebih cerah dan penuh inovasi.
➡️ Baca Juga: Cap Go Meh dan Ramadhan Harmony Festival di Jababeka Hadirkan Kolaborasi Budaya Penuh Kehangatan
➡️ Baca Juga: Kuota TPA Sarimukti Terbatas, Pemkot Cimahi Tingkatkan Program Sapu Jagat hingga ke RT




