Djamal, Pengasuh 81 Anak Yatim dan Dhuafa Sejak 1989: Transformasi Hobi Menjadi Kebaikan

Kehidupan di Jakarta tidak selalu berbicara tentang gemerlap dan hingar-bingar. Di tengah hiruk pikuk ibu kota, ada sosok bernama Muhammad Yusuf Djamal yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia kesejahteraan sosial anak. Keinginannya merawat dan mendidik anak-anak yatim dan dhuafa lahir dari hobi dan minatnya yang besar dalam bidang sosial. Pria yang sudah lebih dari tiga puluh tahun ini mendirikan dan mengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) YUSOLI ini, telah menjadi pengasuh bagi puluhan anak yatim dan dhuafa di Jakarta.
Djamal menjelaskan, anak-anak dhuafa adalah mereka yang memiliki orang tua atau anggota keluarga lainnya, tetapi berada dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai. Kondisi ini membuat mereka kerap kali mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk pendidikan dan biaya hidup. Djamal, yang semasa hidupnya banyak menghabiskan waktu dalam berbagai kegiatan sosial, mulai merasakan panggilan hatinya untuk membantu anak-anak ini sejak ia bergabung dengan Karang Taruna pada 1984.
Minatnya dalam dunia sosial kemasyarakatan semakin menguat saat ia menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial Muhammadiyah. “Saya merasakan panggilan ini lebih sebagai hobi. Saya merasa senang berada di dunia sosial,” ungkap Yusuf Djamal.
Merasa terpanggil, Djamal kemudian mengambil langkah besar dalam hidupnya. Saat menjalani praktikum mahasiswa di Panti Asuhan Al-Mubarokah, ia merasa tergerak untuk mendirikan lembaga serupa. Dukungan datang dari masyarakat sekitar Lebak Lestari yang melihat konsistensi Djamal dalam berbagai kegiatan sosial. Dengan dukungan tersebut, LKSA YUSOLI pun resmi berdiri pada tahun 1989. YUSOLI sendiri adalah singkatan dari Yayasan Ukhuwah Sosial Lestari.
LKSA YUSOLI berbeda dengan panti asuhan pada umumnya. Sejalan dengan Permensos Nomor 30 Tahun 2011, LKSA YUSOLI beroperasi sebagai lembaga non-panti. Hal ini memungkinkan Djamal dan timnya untuk merawat dan mendidik anak-anak tidak hanya yang tinggal di dalam panti, tetapi juga mereka yang berada di lingkungan sekitar.
Untuk pendidikan anak-anak, Djamal dan timnya terus mencari donatur. “Misalnya ada Pak Jamal yang ingin menyumbang. Misalnya, dia ingin membantu anak-anak yang sedang bersekolah. Kami kemudian akan memberikan data-data anak tersebut,” jelas Djamal.
Dalam pengalaman Djamal yang telah merentang dari era Orde Baru hingga sekarang, ia berharap pemerintah lebih serius dalam memperhatikan lembaga-lembaga sosial anak. Menurutnya, kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan sosial di masa lalu lebih nyata dibandingkan saat ini.
Di bulan Ramadan ini, LKSA YUSOLI kembali mendapat kunjungan dari SMAN 34 Jakarta dalam kegiatan Social Teaching. Djamal menyambut positif keterlibatan pihak luar, termasuk institusi pendidikan dan media, yang dinilainya turut berperan dalam memperkenalkan lembaganya kepada masyarakat luas.
➡️ Baca Juga: Arduino Ventuno Q dari Qualcomm: Komputer AI untuk Inovasi Robotika Modern
➡️ Baca Juga: Rencanakan Mudik Lebaran 2026: Panduan Lengkap dengan Info Tarif Tol Terbaru Jawa dan Sumatera
