Film Horor “Songko” Tayang di Bioskop 23 April, Diangkat dari Legenda Minahasa

Film horor terbaru, “Songko”, siap menggebrak layar bioskop mulai 23 April mendatang. Karya ini merupakan kolaborasi antara Dunia Mencekam Studio dan Rumah Produksi Santara, terinspirasi dari legenda yang dikenal luas di kalangan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya di kawasan Minahasa dan Tomohon. Dengan kehadiran “Songko”, para penggemar film horor akan disuguhkan sebuah kisah yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya lokal yang mendalam.
Penyutradaraan Pertama Gerald Mamahit
Film “Songko” menandai debut penyutradaraan Gerald Mamahit di dunia perfilman. Dalam proyek ini, Mamahit tidak hanya berfokus pada elemen horor yang membuat jantung berdegup kencang, tetapi juga berupaya untuk mengeksplorasi kekayaan cerita rakyat yang ada di Indonesia Timur. Kombinasi antara ketegangan cerita dan akar budaya menjadi daya tarik tersendiri.
Autentisitas dalam Cerita
Menurut Gerald Mamahit, “Songko” merupakan narasi yang sangat relevan dengan budaya serta legenda yang ada di Minahasa. Ia ingin menyuguhkan pengalaman horor yang terasa otentik, tidak hanya dalam aspek visual, tetapi juga dalam kekuatan cerita yang mengakar dari tradisi lokal. Hal ini menjadi salah satu tujuan utama dalam pembuatan film ini.
Talenta Lokal di Balik Layar
Film ini tidak hanya mengandalkan cerita yang kuat, tetapi juga melibatkan berbagai talenta lokal untuk memperkuat narasi yang disampaikan. Dengan melibatkan orang-orang dari daerah tersebut, “Songko” berusaha untuk menghadirkan sebuah karya yang terasa lebih dekat dan relatable bagi penonton. Ini merupakan langkah penting dalam mendukung pengembangan industri film di daerah.
Pengalaman Para Aktor
Film “Songko” menampilkan sejumlah aktor berbakat seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Masing-masing aktor memberikan warna tersendiri pada karakter yang mereka perankan. Khiva Iskak menyatakan bahwa keterlibatannya dalam film ini memberikan pengalaman berbeda, karena cerita yang diangkat begitu dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
“Yang membuat film ini menarik adalah cerita yang diambil dari legenda yang benar-benar diyakini oleh masyarakat. Saat kami melakukan syuting di Tomohon, suasana yang ada sangat mendukung atmosfer cerita,” jelas Khiva Iskak.
Kekuatan Cerita dalam “Songko”
Annette Edoarda juga mengungkapkan ketertarikan untuk terlibat dalam film ini karena kekuatan narasinya yang berbeda dari film horor umumnya. Ia mengungkapkan bahwa “Songko” bukan sekadar film horor biasa, melainkan sebuah kisah yang mencerminkan ketakutan, tuduhan, dan dampak sosial yang terjadi ketika sebuah desa terpuruk dalam teror yang tidak mereka pahami.
Komitmen terhadap Storytelling Lokal
Sebagai bagian dari komitmen Santara terhadap konsep hyperlocal storytelling, film ini tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar cerita, tetapi juga membangun area set untuk lokasi syuting di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Set ini dirancang untuk menjadi infrastruktur kreatif yang berkelanjutan, bukan sekadar instalasi sementara.
Membangun Ekosistem Perfilman Daerah
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun ekosistem perfilman di daerah dalam jangka panjang. Sebagian besar pemain dan kru yang terlibat dalam produksi “Songko” berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, menciptakan kesempatan kolaborasi bagi talenta lokal untuk berkontribusi langsung dalam proyek film layar lebar.
Plot Menarik dengan Latar Waktu dan Tempat
Film “Songko” berlatar pada tahun 1986, di sebuah desa di Tomohon, Minahasa, yang dilanda teror yang membuat penduduknya hidup dalam ketakutan. Satu persatu perempuan muda ditemukan tewas dalam keadaan yang sangat mengenaskan, tanpa penjelasan yang jelas.
Seiring berjalannya waktu, warga desa mulai meyakini bahwa kematian tersebut bukanlah kebetulan. Mereka percaya bahwa desa mereka telah disinggahi oleh makhluk misterius bernama Songko, yang dikatakan mengincar darah suci dari perempuan muda demi mencapai keabadian.
Dampak Sosial dari Ketakutan
Ketakutan yang melanda desa perlahan-lahan berubah menjadi kecurigaan. Tuduhan mulai bertebaran, mengarah kepada keluarga Mikha, di mana Helsye, ibu tiri Mikha, dituduh sebagai sosok yang memanggil Songko ke desa mereka. Ini menyoroti bagaimana ketakutan dapat merusak ikatan sosial dan menciptakan perpecahan dalam komunitas.
Kesimpulan Cerita
Dengan semua elemen ini, “Songko” tidak hanya menawarkan pengalaman menegangkan bagi penonton, tetapi juga menjadi refleksi dari realitas kehidupan sosial yang kompleks. Film ini diharapkan dapat menggugah kesadaran akan pentingnya memahami dan menghargai tradisi lokal, sekaligus memberikan hiburan yang berkualitas. “Songko” menjadi salah satu film horor yang wajib disaksikan, terutama bagi mereka yang menginginkan cerita yang kaya akan nilai dan makna.
➡️ Baca Juga: Pasar Balong Menarik Minat Pembeli yang Meningkat – Video Terbaru
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Menghasilkan Penghasilan Online Melalui Skill Digital Sederhana dan Legal




