Kawasan Industri Rencanakan Pembangunan PLTS 30 GWp untuk Mendukung Energi Terbarukan

Dalam upaya memanfaatkan potensi energi terbarukan secara maksimal, kawasan industri di Indonesia sedang direncanakan untuk menjadi pusat pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas luar biasa, mencapai 30 gigawatt peak (GWp). Pendekatan ini dikenal sebagai renewable energy zones, yang bertujuan untuk mengintegrasikan kebutuhan listrik industri dengan potensi energi surya yang melimpah.

Sinergi Energi Surya dan Kebutuhan Industri

Konsep renewable energy zones ini diyakini mampu menjembatani antara potensi energi terbarukan dan kebutuhan listrik yang semakin meningkat di sektor industri. Imaduddin Abdullah, Direktur Institute for Development of Economics and Finance Green Transition Initiative (INDEF GTI), mengungkapkan bahwa pendekatan ini tidak hanya dapat mendukung pengembangan energi terbarukan, tetapi juga mengurangi biaya energi bagi sektor manufaktur, smelter, dan pusat data.

“Dengan mengintegrasikan renewable energy zones ke kawasan industri, kita dapat memanfaatkan potensi energi terbarukan yang ada dan memenuhi kebutuhan energi industri dalam satu lokasi,” jelas Imaduddin. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan industri memiliki keunggulan strategis dalam mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Keunggulan Kawasan Industri

Salah satu keuntungan utama dari kawasan industri adalah keberadaan jaringan dan titik evakuasi daya yang sudah tersedia. Ini memungkinkan proyek energi terbarukan dapat dilakukan di lahan sekitarnya, di mana listrik yang dihasilkan dapat diserap oleh industri dengan harga yang lebih kompetitif. Dengan demikian, biaya operasional proyek dapat ditekan secara signifikan.

Lebih dari itu, kebutuhan energi yang konsisten dari sektor industri manufaktur, smelter, dan pusat data menjadikannya sebagai pembeli energi yang alami. Penyediaan energi bersih menjadi semakin krusial, terutama bagi industri yang terikat pada mekanisme penyesuaian karbon lintas batas atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), serta komitmen iklim global lainnya.

Peluang Pertumbuhan Ekonomi Melalui Energi Terbarukan

Imaduddin menekankan bahwa kawasan industri juga memiliki potensi untuk menjadi pusat reindustrialisasi Indonesia. Hasil analisis awal dari INDEF GTI menunjukkan bahwa integrasi antara kawasan industri dan energi terbarukan dapat meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) agregat dari 5,95% menjadi 6,30%.

“Dampak positif dari penerapan konsep serupa akan jauh lebih signifikan jika dilakukan secara luas di kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri lainnya di Indonesia,” ujar Imaduddin. Studi bersama INDEF GTI dan Systemiq Indonesia memperkirakan bahwa kawasan industri dapat mengembangkan PLTS hingga 21 GW, dengan sekitar 6-13 GW berasal dari atap pabrik serta lahan nonkomersial yang tidak terpakai.

Pembangunan PLTS Skala Besar

Di sisi lain, sekitar 7-8 GW dari total potensi tersebut dapat dikembangkan di lahan berdekatan melalui PLTS skala utilitas yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai. “Sebagian dari potensi 6-13 GW ini dianggap low hanging fruit, yang bisa segera direalisasikan. Dengan adanya rencana untuk mencapai 100 GWp melalui pendekatan terstruktur, target pembangunan menjadi semakin jelas, namun realisasinya memerlukan kolaborasi yang kuat dari semua pihak,” tambah Imaduddin.

Komitmen Pemerintah untuk Energi Terbarukan

Usulan pengembangan ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia untuk membangun PLTS dengan total kapasitas 100 GWp dalam tiga tahun ke depan. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Pada kesempatan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen tersebut saat meresmikan proyek PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Kabupaten Jembrana, Bali. “Kita berkomitmen untuk membangun 100 gigawatt, dan target kita adalah dalam waktu tiga tahun,” tegas Prabowo.

Inisiatif Awal Pengembangan PLTS

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa program PLTS 100 GWp merupakan respons terhadap arahan Presiden Prabowo untuk mempercepat kedaulatan dan swasembada energi nasional. Pada tahap awal, pemerintah telah meluncurkan 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5.300 megawatt peak (MWp).

Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai jenis PLTS, seperti:

Rencana dan Skenario Pembangunan PLTS

Program PLTS ini mencakup delapan skenario, antara lain pengembangan PLTS skala besar melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang ditargetkan mencapai 30,97 GWp, PLTS terapung sebanyak 10,72 GWp, serta PLTS atap yang ditargetkan 9,35 GWp. Selain itu, PLTS nonatap untuk kawasan industri diharapkan mencapai 7,49 GWp.

Untuk mendukung berbagai inisiatif ini, pemerintah juga mengembangkan demand creation melalui hilirisasi, kendaraan listrik, kompor induksi, dan kebutuhan energi lainnya yang diperkirakan mencapai 24,13 GWp. Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia berupaya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi domestik tetapi juga untuk berkontribusi pada tujuan global dalam menghadapi perubahan iklim.

➡️ Baca Juga: Menghitung Kebutuhan Kalori Harian untuk Mencapai Berat Ideal dengan Akurat

➡️ Baca Juga: Rapat Paripurna DPR Bahas APBN 2025, APBN 2027, dan Calon Kepala Eksekutif BMKS OJK

Exit mobile version