Di tengah meningkatnya tantangan terkait sampah dan pengelolaan lingkungan, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia berinisiatif untuk berkontribusi dalam menemukan solusi. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik “Sampah Tuntas”, mereka mulai mengimplementasikan strategi untuk menangani masalah tersebut di kawasan Bandung Raya dan Kabupaten Sumedang.
Pentingnya Kolaborasi dalam Mengatasi Masalah Sampah
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa penanganan isu sampah memerlukan kerjasama dari berbagai sektor. Diperlukan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
“Tim kajian pengelolaan sampah telah menemukan inovasi yang sangat menjanjikan. Kita akan menerapkannya terlebih dahulu di Bandung. Dari sini, kita bisa melakukan analisis dan menentukan teknologi yang paling tepat untuk diterapkan,” jelas Mendiktisaintek dalam pernyataan resminya.
Peran Mahasiswa dalam Program KKN Tematik
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV, Lukman, menegaskan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam program ini tidak hanya bertugas mendampingi masyarakat, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam pengelolaan sampah di sumbernya.
Program ini dirancang untuk mengubah perilaku masyarakat melalui pendekatan rekayasa sosial yang bersifat partisipatif. “Mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai tenaga bantu petugas pengelola sampah. Konsep yang diterapkan adalah mengubah budaya dan perilaku masyarakat terhadap sampah,” imbuh Lukman. Edukasi dimulai dari tingkat rumah tangga agar sampah dapat dikelola secara efektif sebelum keluar dari rumah, sekaligus melibatkan masyarakat dalam proses.
Komponen Utama KKN Tematik “Sampah Tuntas”
Program KKN Tematik ini terdiri dari lima komponen inti: edukasi, pemilahan, pengelolaan, serta pengurangan sampah menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Mahasiswa berfungsi sebagai motivator dan fasilitator untuk mendorong perubahan sikap masyarakat, bukan sebagai pengangkut atau pemilah sampah.
Pelaksanaan program ini juga termasuk penguatan bank sampah dan pengolahan sampah organik di daerah yang menjadi lokasi dampingan.
Target dan Proyeksi Program KKN “Sampah Tuntas”
Diharapkan pada tahun 2026, program ini akan melibatkan 90 perguruan tinggi swasta (PTS), 25.529 mahasiswa, serta 56 kecamatan di lima kabupaten/kota. Rincian partisipasi adalah sebagai berikut:
- Kota Bandung: 69 PTS dengan 15.166 peserta
- Kabupaten Bandung: 6 PTS dengan 5.371 peserta
- Kota Cimahi: 7 PTS dengan 3.300 peserta
- Kabupaten Sumedang: 5 PTS dengan 1.402 peserta
- Kabupaten Bandung Barat: 3 PTS dengan 292 peserta
Durasi dan Rangkaian Kegiatan Program
Lukman menjelaskan bahwa program ini direncanakan berlangsung selama 12 pekan, setara dengan 10 satuan kredit semester (SKS), dengan total waktu kegiatan mencapai 450 jam. Rangkaian aktivitas meliputi berbagai tahap, seperti:
- Pembekalan mahasiswa
- Pemetaan kondisi sampah di lokasi
- Survei pengetahuan, sikap, dan praktik (KAP)
- Audit sampah
- Penyusunan rencana aksi selama 90 hari
Setelah itu, dilakukan pendampingan, evaluasi, dan penguatan keberlanjutan program.
Ekspansi Program KKN di Tahun Mendatang
Program ini merupakan kelanjutan dari pelaksanaan KKN Tematik yang sebelumnya dilaksanakan di sejumlah daerah. Pada tahun 2024, di Kota Bandung, program ini akan melibatkan 57 perguruan tinggi dengan 1.114 mahasiswa serta menjangkau 90 kelurahan. Sementara itu, pada tahun 2025, di Kota Cimahi, akan melibatkan 7 perguruan tinggi dan 1.600 mahasiswa serta 15 kelurahan.
Rencana ke depan, pada tahun 2026, program ini akan diperluas ke daerah Karawang, Tasikmalaya, dan Sukabumi, melibatkan total 26 perguruan tinggi dan lebih dari 2.000 mahasiswa.
Target Spesifik Program KKN “Sampah Tuntas”
KKN Tematik “Sampah Tuntas” menargetkan pendampingan di sekitar 2.500 Rukun Warga (RW), di mana setiap kelurahan atau desa yang terlibat diharapkan memiliki setidaknya satu bank sampah yang aktif. Selain itu, program ini juga menargetkan:
- Satu unit pengomposan aktif per RW
- Minimal dua kader terlatih per RW
- Penurunan sampah residu yang masuk ke TPS/TPA sebesar 15-20 persen dari kondisi awal
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya akan membantu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, tetapi juga membangun kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan.
➡️ Baca Juga: IPO SK Hynix di AS Memperluas Akses Investor Amerika ke Pasar Memori Global
➡️ Baca Juga: Wapang TNI Melakukan Tinjauan Terhadap YTP 835/SYB dan KDKMP di NTB
