Kronologi Dugaan Kekerasan Seksual Penulis Panji Sukma yang Viral di Media Sosial

Jakarta – Kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan penulis Panji Sukma telah menghebohkan media sosial dan menarik perhatian publik. Seorang wanita bernama Sundari Sukoco mengungkapkan pengalamannya yang menyakitkan melalui akun X @tmptmengeluhku pada tanggal 25 Maret 2026. Ceritanya mengungkapkan sebuah realita kelam mengenai kekerasan dan manipulasi dalam hubungan yang bersembunyi di balik citra positif pelaku. Dengan harapan mendapatkan keadilan, Sundari berbagi kisahnya untuk memberikan pemahaman bahwa kekerasan dalam hubungan tidak dapat diabaikan atau dinormalisasi.
Dugaan Kekerasan Seksual Panji Sukma
Dalam utas yang viral tersebut, Sundari menegaskan bahwa peristiwa yang dialaminya bukan sekadar kesalahan komunikasi, melainkan sebuah tindakan kekerasan yang merusak kesehatan mentalnya. Dia menggambarkan Panji Sukma sebagai sosok yang dikenal luas di dunia sastra, dengan reputasi sebagai penulis dan vokalis band metal hardcore dari Karanganyar, Surakarta. Meskipun memiliki citra yang baik, tindakan yang dilaporkan oleh Sundari menunjukkan sisi kelam dari pelaku.
Pertemuan Pertama yang Menyimpang
Awal mula pertemuan mereka dimulai ketika Sundari menghubungi PS untuk mendapatkan bimbingan dalam menulis, dengan tujuan mengikuti sayembara novel. Dia menjelaskan bagaimana reputasi PS yang baik di kalangan penulis dan penerbit membuatnya percaya untuk meminta bantuan. Namun, saat pertemuan pertama di sebuah kafe di Solo pada 29 Maret 2025, situasi berubah menjadi tidak nyaman. PS mulai menunjukkan perilaku manipulatif dengan mengalihkan fokus bimbingan menulis menjadi interogasi mengenai kehidupan pribadi Sundari.
- PS memuji kepintaran Sundari di awal percakapan.
- Dia mulai menanyakan detail kehidupan pribadi, termasuk pekerjaan dan hubungan sosial.
- Obrolan yang tadinya santai berubah menjadi tekanan psikologis.
- PS memanfaatkan momen ketika Sundari jatuh sakit untuk menanamkan rasa utang budi.
- Dia mulai mengeksploitasi Sundari demi kepentingan karier pribadinya.
Eksploitasi dan Perilaku Abusif
Seiring berjalannya waktu, PS menunjukkan perilaku abusif yang semakin jelas. Sundari menuturkan bahwa ia dipaksa untuk mengerjakan tugas-tugas akademik yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Dalam proses tersebut, Sundari mengalami tekanan mental yang besar.
Salah satu tindakan paling merendahkan adalah ketika PS menyuruh Sundari untuk membersihkan botol berisi air pipisnya. Dalam pengakuannya, Sundari menggambarkan betapa menjijikkannya pengalaman tersebut, di mana botol itu dibiarkan di kamar dalam keadaan yang sangat tidak higienis selama berhari-hari.
Puncak Kekerasan dan Ancaman
Puncak dari kekerasan yang dialami Sundari terjadi dalam kondisi mental yang sangat rentan. Di bawah ancaman fisik dan intimidasi verbal, PS diduga melakukan pemerkosaan terhadapnya. Sundari mengungkapkan rasa sakit dan ketidakberdayaan yang dialaminya saat PS merendahkan pengobatan yang sedang dijalani. Pernyataan PS yang menekan, “Enak mana, k*nt*lku atau psikiater?” menjadi bukti betapa dalamnya kekerasan yang dialaminya.
Setelah peristiwa tersebut, Sundari mengalami trauma mendalam, bahkan sampai mencoba mengakhiri hidupnya. Ketika berusaha melaporkan kasus ini, ia justru menemui kesulitan dan perlakuan tidak pantas dari lembaga yang seharusnya memberinya perlindungan.
Reviktimisasi dan Pencarian Keadilan
Pada tanggal 12 Januari 2026, Sundari mencoba melaporkan kejadian tersebut ke UPTD PPA setempat. Sayangnya, ia mengalami reviktimisasi di mana pihak berwenang justru menyebutnya sebagai zina dan menganggap kasusnya tidak layak untuk diproses lebih lanjut. Hal ini semakin memperburuk kondisi mental dan emosional korban, yang seharusnya mendapatkan dukungan dan perlindungan.
Setelah cerita Sundari viral, banyak netizen mulai mengarahkan perhatian pada Panji Sukma. Akun media sosialnya pun terpantau terkunci, mengindikasikan bahwa pelaku merasa terancam oleh reaksi publik. Dukungan untuk Sundari terus berdatangan dari berbagai kalangan, menuntut keadilan dan perhatian serius terhadap kasus dugaan kekerasan seksual ini.
Identitas Panji Sukma
Panji Sukma dikenal sebagai sosok yang berpengalaman di bidang sastra dan musik. Latar belakangnya yang kuat dalam etnomusikologi, hukum, dan kajian budaya tidak menjadikannya kebal dari kritik dan tuntutan atas tindakan yang diduga dilakukannya. Masyarakat kini mulai menuntut pertanggungjawaban atas dugaan kekerasan seksual yang dilaporkan oleh Sundari.
- Panji Sukma sebagai penulis dengan karya yang diterbitkan di beberapa penerbit terkenal.
- Memiliki citra sebagai sosok yang menghormati budaya dan tradisi.
- Perilakunya yang berbeda jauh dari citra publik yang telah dibangun.
- Menjadi sorotan setelah kasus dugaan kekerasan seksual viral di media sosial.
- Menanggapi kritik dengan menutup akun media sosialnya.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran dan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual. Dukungan bagi korban, penegakan hukum yang tegas, dan pendidikan mengenai hubungan yang sehat sangat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dengan semua perhatian yang diberikan terhadap kasus ini, diharapkan keadilan dapat tercapai untuk Sundari dan korban lainnya yang mengalami situasi serupa. Penting bagi masyarakat untuk terus berdialog dan mendukung upaya pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual di berbagai lapisan masyarakat.
➡️ Baca Juga: Bupati Bandung Luncurkan Empat Strategi Efektif Atasi Banjir Bandang Solokanjeruk
➡️ Baca Juga: Strategi Olahraga Mikro Harian untuk Menjaga Tubuh Aktif dan Stabil Tanpa Kelelahan




