Di bawah cahaya remang-remang Masjid Al Insyirah, saat banyak orang masih terlelap dalam tidur malam, suara merdu Muhammad Faqih Jundulloh menggema, memecah kesunyian. Suara ini bukan berasal dari seorang dewasa berpengalaman, melainkan dari seorang remaja berusia 12 tahun 11 bulan yang menjalankan peran penting sebagai Imam Qiyamullail.
Imam Muda yang Berprestasi
Faqih bukanlah sosok remaja biasa. Sebagai santri kelas 7 dari Pondok Pesantren Daarul Mutqin yang berlokasi di Kabupaten Bogor, ia merupakan penerus generasi keempat dari Al Bahrum, Limbangan, Garut. Latar belakang keluarga yang kaya akan tradisi keilmuan membuatnya memiliki semangat yang luar biasa dalam mengabdi kepada agama.
Dengan darah ulama mengalir dalam dirinya, Faqih menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang dalam mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an. Dalam sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, ia mendapatkan amanah untuk memimpin shalat malam dalam program I’tikaf yang dipandu oleh Ustadz Asep Syaripudin.
Pengabdian dalam I’tikaf
Tugas yang diemban Faqih bukanlah hal yang sepele. Setiap malam, ia melantunkan sepuluh halaman atau setengah juz Al-Qur’an dengan penuh khidmat, dimulai dari pukul 02.30 hingga 03.30 WIB. Dedikasinya ini menjadikan setiap malam sebagai momen yang ditunggu-tunggu oleh jamaah yang hadir.
Selama periode tersebut, Faqih berhasil mengimami shalat sebanyak delapan kali, dengan total bacaan mencapai empat juz. Keberhasilannya ini tidak hanya menunjukkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga keberanian dan keteguhan hatinya untuk berdiri di hadapan jamaah yang beragam, mulai dari mahasiswa hingga orang tua.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Keberadaan Faqih sebagai Imam muda di Masjid Al Insyirah memberikan inspirasi tersendiri. Dengan semangat yang kuat, ia membuktikan bahwa komitmen terhadap agama dapat dilakukan oleh siapa saja, terlepas dari usia. “Alhamdulillah, ini adalah langkah awal. Insya Allah tahun depan agendanya meningkat menjadi satu juz per malam,” ungkap keluarga Faqih dengan penuh harapan.
Harapan ini bukan tanpa alasan. Keluarganya ingin agar Faqih semakin termotivasi untuk menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an secara mutqin, yaitu dengan kekuatan dan kesempurnaan dalam hafalan. Ini merupakan cita-cita yang mulia dan layak untuk diperjuangkan oleh setiap umat Islam.
Kegiatan I’tikaf yang Menarik
Kegiatan I’tikaf yang diadakan di Masjid Al Insyirah, yang dibuka oleh Ketua DKM Ustadz Hervan Rivano, memang menawarkan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Meskipun tidak semua jamaah dapat menetap selama sepuluh hari penuh, antusiasme masyarakat dari berbagai daerah seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Sumedang tetap tinggi.
- Antusiasme masyarakat yang luar biasa
- Kehadiran Imam muda sebagai magnet bagi pemuda
- Rangkaian kajian yang menarik perhatian
- Kegiatan pembelajaran yang mendidik
- Kesempatan beribadah bersama dalam suasana yang khusyuk
Menariknya, sosok Imam muda seperti Faqih, bersama dengan kajian Sirah Nabawiyah yang relevan dengan konteks kekinian, menjadi magnet bagi kalangan pemuda dan mahasiswa di seputar Jatinangor. Mereka rela datang berbondong-bondong, bahkan di tengah malam, meskipun tidak mengikuti seluruh rangkaian I’tikaf.
Makna dalam Setiap Detik
Setiap momen dalam kegiatan I’tikaf diisi dengan makna yang mendalam. Mulai dari pembelajaran Bahasa Arab Terapan yang dipandu oleh Ustadz Luki Sambas pada siang hari, hingga tadarus mandiri yang dilakukan setelah Tarawih. Ini adalah kesempatan berharga bagi para peserta untuk memperdalam pengetahuan agama dan memperkuat hubungan spiritual mereka.
Dengan suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan, setiap individu yang hadir merasakan kedamaian dan ketenteraman. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk beribadah, tetapi juga untuk membangun komunitas yang saling mendukung dalam meningkatkan kualitas iman dan pengetahuan.
Dengan pelibatan generasi muda seperti Faqih, diharapkan akan ada keberlanjutan dalam tradisi pengajian dan ibadah, sehingga masyarakat di Jatinangor dan sekitarnya semakin terinspirasi untuk mendalami ajaran Islam dan berkontribusi secara aktif dalam kegiatan keagamaan.
Secara keseluruhan, lantunan ayat suci di Jatinangor yang dibawakan oleh Faqih menjadi simbol harapan dan semangat baru. Ini adalah contoh nyata bahwa cinta terhadap Al-Qur’an dan pengabdian kepada agama bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang usia. Dengan dukungan dari keluarga dan masyarakat, perjalanan Faqih dalam menyelesaikan hafalan dan mengembangkan potensi dirinya akan terus berlanjut.
➡️ Baca Juga: Mengungkap Detik-Detik Terakhir Vidi oleh Nadin Amizah di Atas Panggung
➡️ Baca Juga: Kenaikan Jumlah Penumpang di Terminal Harjamukti – Tonton Videonya Sekarang
