Nilai Tukar Petani Kalbar Terjun Bebas, Catat Penurunan Terdalam di Kalimantan

Pontianak – Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, terungkap bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) di wilayah ini mengalami penurunan signifikan sebesar 1,50 persen pada bulan September 2026. Penurunan ini merupakan yang terdalam jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan, menandakan adanya tantangan serius yang dihadapi oleh para petani di daerah ini.
Statistik NTP Kalimantan Barat
Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh Saichudin, mengungkapkan bahwa NTP pada bulan September telah turun menjadi 177,68 poin, menurun dari angka 180,38 poin yang tercatat pada bulan Agustus 2026. Penurunan yang terjadi menunjukkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi para petani di Kalimantan Barat.
Penyebab Penurunan NTP
Menurut Saichudin, penyebab utama dari penurunan NTP ini adalah turunnya harga yang diterima oleh petani, sementara di sisi lain, harga yang harus mereka bayar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi justru mengalami peningkatan. Hal ini menciptakan tekanan finansial yang cukup berat bagi petani.
- Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 0,52 persen dari 231,53 menjadi 230,33 poin.
- Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mengalami kenaikan 1,00 persen dari 128,36 menjadi 129,63 poin.
- Komoditas yang menyumbang penurunan It antara lain kelapa sawit, gabah, ayam ras pedaging, dan kelapa.
Analisis Sektor Pertanian
Dari lima subsektor pertanian yang ada, empat di antaranya mengalami penurunan NTP. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- Sektor tanaman pangan mengalami penurunan NTP sebesar 1,48 persen.
- Sektor tanaman perkebunan rakyat mencatat penurunan 1,68 persen.
- Peternakan tertekan dengan penurunan NTP mencapai 1,05 persen.
- Perikanan juga mengalami penurunan meskipun lebih kecil, yaitu 0,23 persen.
Sementara itu, sektor hortikultura menjadi satu-satunya subsektor yang mencatatkan kenaikan NTP sebesar 3,76 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan It hortikultura sebesar 4,74 persen, terutama pada kelompok sayur-sayuran yang mengalami lonjakan hingga 12,65 persen.
Pengeluaran Rumah Tangga Petani
Tekanan terhadap NTP juga disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran rumah tangga para petani. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani mengalami kenaikan sebesar 1,21 persen pada bulan September, dengan sepuluh dari sebelas kelompok pengeluaran menunjukkan peningkatan.
- Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran meningkat sebesar 2,37 persen.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,50 persen.
- Biaya transportasi juga meningkat sebesar 0,85 persen.
- Kelompok pendidikan tetap stabil tanpa adanya perubahan.
Perbandingan Regional NTP Kalimantan
Secara regional, Kalimantan Barat merupakan salah satu dari dua provinsi di Kalimantan yang mengalami penurunan NTP. Di sisi lain, Kalimantan Utara hanya mengalami penurunan minimal sebesar 0,06 persen. Sebaliknya, Kalimantan Selatan mencatatkan peningkatan sebesar 1,92 persen, Kalimantan Tengah 1,08 persen, dan Kalimantan Timur 0,81 persen.
Tren NTP Nasional
Penurunan NTP di Kalimantan Barat juga bertentangan dengan tren yang terjadi secara nasional. Pada bulan September 2026, NTP Indonesia justru mengalami kenaikan sebesar 1,49 persen, dari 129,19 menjadi 131,11 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok antara kondisi petani di Kalimantan Barat dan petani di daerah lain di Indonesia.
Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP)
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di Kalimantan Barat juga mengalami penurunan sebesar 0,74 persen, dari 185,08 menjadi 183,71 poin. Penurunan ini terjadi karena It menurun 0,52 persen, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami peningkatan sebesar 0,22 persen.
Melihat angka-angka yang disajikan, jelas bahwa para petani di Kalimantan Barat berada dalam posisi yang semakin berat. Dengan harga yang terus berfluktuasi dan biaya yang meningkat, tantangan yang dihadapi oleh petani tidak bisa dianggap sepele. Penyusunan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi permasalahan ini.
Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mencari solusi yang inovatif. Peningkatan akses terhadap informasi pasar, pelatihan untuk meningkatkan produktivitas, serta dukungan finansial bagi para petani bisa menjadi langkah awal yang baik untuk memperbaiki kondisi NTP di Kalimantan Barat.
Secara keseluruhan, situasi NTP di Kalimantan Barat mencerminkan tantangan yang harus dihadapi oleh sektor pertanian di era modern ini. Dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan para petani di Kalimantan Barat dapat kembali meraih nilai tukar yang lebih baik di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: Kardinal: Paskah Sebagai Perjalanan Menuju Terang dari Kegelapan yang Menghimpun
➡️ Baca Juga: Karhutla Jambi Tidak Ganggu Operasional Penerbangan di Bandara Sultan Thaha Saifuddin




