Pemprov NTB Perluas Lahan Pertanian Baru di Pulau Sumbawa untuk Peningkatan Produksi

Pertumbuhan sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi fokus utama pemerintah, terutama di Pulau Sumbawa. Dengan pelaksanaan program cetak sawah baru seluas 1.347 hektare, pemerintah berupaya untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Namun, keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada dukungan dari berbagai pemangku kepentingan yang terlibat. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Provinsi NTB dalam memperluas lahan pertanian baru di Sumbawa.
Perluasan Lahan Pertanian di Pulau Sumbawa
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mengidentifikasi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan lahan pertanian di Pulau Sumbawa. Melalui program cetak sawah baru, mereka berencana untuk membuka lahan baru yang akan berkontribusi signifikan terhadap produksi pangan daerah. Dari total luas 1.347 hektare, Kabupaten Dompu mendapatkan alokasi terbesar dengan 1.097 hektare, sedangkan Kabupaten Sumbawa Barat memperoleh sekitar 250 hektare. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian dan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.
Pentingnya Dukungan Pemangku Kepentingan
Eva Dewiyani, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, menegaskan bahwa keberhasilan program cetak sawah baru ini sangat tergantung pada keterlibatan aktif semua pihak terkait. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa lahan baru yang dibuka dapat dimanfaatkan secara optimal. Tanpa dukungan yang solid, program ini berpotensi menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghambat pencapaian tujuan utamanya.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan di NTB. Dalam konteks ini, pemerintah berkomitmen untuk menyediakan semua fasilitas yang diperlukan agar usaha pertanian dapat berjalan dengan lancar dan berkelanjutan.
Langkah-Langkah Persiapan untuk Lahan Pertanian Baru
Pemerintah NTB saat ini tengah mempersiapkan berbagai dokumen yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program cetak sawah baru ini. Salah satu langkah penting adalah penyelesaian dokumen Survei Investigasi dan Desain (SID) serta dokumen lingkungan yang merupakan prasyarat utama untuk memulai konstruksi lahan pertanian baru tersebut. Proses penyusunan SID yang dilakukan oleh tim dari Universitas Mataram telah berjalan sesuai rencana sejak November 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Maret 2026.
Hasil dari survei lapangan menunjukkan bahwa lokasi yang akan digunakan untuk cetak sawah baru ini tidak berada di kawasan hutan dan tidak termasuk dalam kategori lahan baku sawah. Dukungan dari petani setempat juga sangat positif, dengan banyak yang bersedia mengoptimalkan lahan yang ada untuk dijadikan sawah produktif. Ini adalah langkah awal yang baik untuk memastikan bahwa program cetak sawah baru dapat direalisasikan dengan sukses.
Perencanaan Infrastruktur Pendukung
Untuk mendukung keberlanjutan budidaya padi, pemerintah telah merencanakan beberapa infrastruktur penting. Ini termasuk:
- Desain jaringan irigasi yang efisien
- Pembangunan sumur bor untuk pasokan air
- Analisis kebutuhan air bagi pertanian
- Penguatan akses jalan menuju lokasi pertanian
- Pelatihan bagi petani untuk meningkatkan keterampilan budidaya
Dengan adanya infrastruktur yang memadai, diharapkan produktivitas lahan pertanian baru dapat meningkat, dan petani dapat mengoptimalkan hasil panen mereka.
Dokumen Lingkungan dan Kesesuaian Tata Ruang
Dalam upaya untuk memenuhi syarat penerbitan dokumen lingkungan, pemerintah juga sedang melengkapi sejumlah dokumen pendukung yang diperlukan. Kesesuaian tata ruang dan validasi kawasan non-hutan adalah dua faktor krusial yang harus diperhatikan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan lahan pertanian baru tidak bertentangan dengan kebijakan tata ruang daerah dan tidak merusak ekosistem yang ada.
Pemerintah NTB, bersama dengan instansi terkait, terus meningkatkan koordinasi untuk memastikan bahwa semua tahapan administrasi dapat diselesaikan tepat waktu. Jika dokumen lingkungan tidak dapat diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang ditentukan, maka akan dilakukan penyesuaian melalui kontrak ulang. Ini adalah langkah proaktif untuk mencegah terjadinya keterlambatan yang dapat mempengaruhi program secara keseluruhan.
Optimisme terhadap Program Cetak Sawah Baru
Eva Dewiyani menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap pelaksanaan program cetak sawah baru ini. Ia percaya bahwa dengan dukungan dari semua pihak, program ini dapat segera direalisasikan. Selain itu, program ini juga merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk meningkatkan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah, serta memberikan kontribusi terhadap pencapaian target nasional dalam sektor pertanian.
Data Produksi Pangan di NTB
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah kering giling di Nusa Tenggara Barat mencapai 1,71 juta ton pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 17,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,45 juta ton. Peningkatan signifikan dalam produksi padi ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan luas panen serta berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah di sektor pertanian.
Dengan luas panen padi yang mencapai 322,90 ribu hektare, NTB mencatat kenaikan sebesar 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan luas panen padi pada tahun 2024 yang sebesar 281,72 ribu hektare. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam memperluas lahan pertanian dan meningkatkan produktivitas tampaknya mulai membuahkan hasil.
Kesimpulan
Pemerintah Provinsi NTB melalui program cetak sawah baru di Pulau Sumbawa berkomitmen untuk meningkatkan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dan perencanaan yang matang, diharapkan lahan pertanian baru ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Seiring dengan meningkatnya produksi padi, langkah-langkah ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah lainnya di Indonesia.
➡️ Baca Juga: Mustika Bahrum Ajak Warga Parerejo Amalkan Nilai-Nilai Pancasila
➡️ Baca Juga: Promo Mudik Hemat Alfamart 16-31 Maret 2026: Paket Snack dan Minuman Mulai Rp8 Ribuan



